KUTIP.co – Ulama sekaligus tokoh politik Iran, Ayatollah Mojtaba Hosseini Khamenei, resmi menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 8 Maret 2026.
Ia menggantikan posisi ayahnya, Ali Khamenei, yang wafat di tengah konflik Iran pada tahun 2026.
Penunjukan tersebut dilakukan oleh Assembly of Experts yang memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi negara tersebut.
Latar Belakang Ayatollah Mojtaba Khamenei
Mojtaba Hosseini Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad dan merupakan anak kedua dari pasangan Ali Khamenei dan Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh.
Keluarga Khamenei diketahui memiliki latar belakang keturunan Azeri–Persia yang berasal dari wilayah Khamaneh di Iran.
Ia tumbuh bersama lima saudara yang terdiri dari Mostafa, Masoud, Meysam, serta dua saudari bernama Boshra dan Hoda.
Kakeknya dari pihak ayah, Javad Khamenei, dikenal sebagai ulama Syiah yang dihormati di kalangan masyarakat meskipun menjalani kehidupan sederhana.
Masa kecil Mojtaba berlangsung pada periode ketika ayahnya mulai dikenal luas dalam peristiwa Iranian Revolution yang menggulingkan pemerintahan monarki Mohammad Reza Pahlavi.
Ia menjalani pendidikan awal di beberapa wilayah barat laut Iran seperti Sardasht dan Mahabad sebelum melanjutkan pendidikan menengah di Tehran.
Setelah itu Mojtaba memperdalam studi teologi Islam dengan bimbingan ayahnya serta ulama terkemuka Mahmoud Hashemi Shahroudi.
Karier Militer Dan Politik
Pada 1987, Mojtaba bergabung dengan Islamic Revolutionary Guard Corps yang menjadi salah satu kekuatan militer utama di negara tersebut.
Ia terlibat dalam sejumlah operasi militer selama Iran–Iraq War.
Beberapa operasi yang diikutinya antara lain Operasi Beit ol-Moqaddas 2, Operasi Dawn 10, dan Operasi Mersad.
Pada 1999 ia melanjutkan pendidikan keagamaan di Qom yang dikenal sebagai pusat pendidikan ulama Syiah.
Di kota tersebut ia kemudian aktif mengajar teologi di seminari dan memperkuat pengaruhnya di kalangan ulama.
Nama Mojtaba semakin sering disebut dalam lingkaran kekuasaan Iran karena dianggap memiliki peran dalam mengawasi urusan politik dan keamanan di kantor pemimpin tertinggi.
Ia juga diketahui memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh politik Iran termasuk mantan wali kota Teheran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Kontroversi Dan Pengaruh
Pada 2009, Mojtaba dilaporkan mengambil peran dalam mengendalikan milisi sukarelawan paramiliter Basij.
Kelompok reformis di Iran menudingnya terlibat dalam penindakan terhadap demonstrasi yang terjadi setelah pemilihan presiden tahun tersebut.
Sejumlah analis internasional juga menilai Mojtaba sebagai tokoh yang memiliki pandangan politik tegas di kalangan kelompok prinsipis Iran.
Lembaga riset Atlantic Council menyebut ia memiliki kedekatan dengan sejumlah ulama yang berpandangan ideologis kuat dalam politik Iran.
Pada 2019, namanya juga masuk dalam daftar sanksi yang dijatuhkan oleh United States Department of the Treasury terhadap individu yang dianggap terkait dengan lingkaran kekuasaan Ali Khamenei.
Sejumlah analis menilai Mojtaba memiliki pandangan yang lebih terbuka terhadap pengembangan program senjata nuklir Iran dibandingkan dengan ayahnya.
Kini dengan posisinya sebagai pemimpin tertinggi negara, Mojtaba Hosseini Khamenei diperkirakan akan memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan politik, keamanan, dan hubungan internasional Iran di masa mendatang.












