KUTIP.co – Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia atau HIPMI Kabupaten Bulukumba Ilham Ashari menilai penutupan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah tersebut bukan langkah yang tepat karena berdampak pada berbagai sektor.
Kebijakan tersebut dinilai mempengaruhi banyak pihak yang selama ini terlibat dalam operasional dapur melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ilham menyebut relawan yang bekerja di dapur, penerima manfaat program, hingga pelaku usaha penyedia bahan baku menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
“Penutupan dapur ini tentu merugikan banyak pihak karena ada sekitar 47 relawan yang bekerja di SPPG, kemudian penerima manfaat kurang lebih 3.000 siswa termasuk pelaku usaha penyedia bahan baku dan supplier,” ujar Ilham pada Rabu (11/3/2026).
HIPMI Soroti Dampak Penutupan Dapur MBG terhadap Ekonomi Lokal
Ia menilai penghentian operasional dapur MBG berpotensi mengganggu aktivitas sektor riil yang selama ini ikut bergerak melalui program tersebut di Kabupaten Bulukumba.
Menurut Ilham, kondisi tersebut juga mempengaruhi para relawan yang harus kehilangan pekerjaan di tengah bulan Ramadan.
Situasi ini dinilai cukup berat karena pada periode tersebut kebutuhan rumah tangga masyarakat biasanya meningkat.
Ia berharap pihak terkait dapat segera mencari solusi agar para relawan dan pelaku usaha yang terdampak tidak kehilangan sumber penghasilan dalam waktu lama.
Ilham juga mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pemerintah Kabupaten Bulukumba untuk memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut.
Ia menyebut Program MBG sebelumnya turut memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi lokal di Bulukumba.
Program tersebut juga dinilai ikut mendorong perkembangan usaha mikro dan kecil yang menjadi bagian dari penyedia bahan makanan.
Salah satu contoh yang disebutkan adalah berkembangnya usaha roti yang menjadi pemasok kebutuhan dapur MBG.
Saat ini terdapat empat dapur MBG di Bulukumba yang terdampak penutupan operasional.
Akibat kondisi tersebut sebanyak 188 relawan yang bekerja di dapur program tersebut harus dirumahkan sementara.
Salah seorang pekerja dapur yang enggan disebutkan identitasnya mengaku penutupan dapur sangat mempengaruhi kondisi ekonomi keluarganya.
Ia menyebut pekerjaan di dapur MBG selama ini menjadi sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami sangat berharap dapur ini bisa kembali dibuka karena dari sini kami mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menambahkan kondisi tersebut terasa semakin berat karena terjadi pada bulan Ramadan saat kebutuhan keluarga meningkat.
Para relawan berharap pihak Badan Gizi Nasional dapat segera mengambil langkah agar dapur MBG kembali beroperasi sehingga mereka dapat kembali bekerja seperti sebelumnya.












