NEWS  

Stamford Bridge Sambut Liam Rosenior, Era Baru Chelsea Dimulai

Avatar photo
Pelatih muda Chelsea Liam Rosenior. Foto dok Chelsea
Pelatih muda Chelsea Liam Rosenior. Foto dok Chelsea

Kutip.co – Chelsea resmi mengumumkan penunjukan Liam Rosenior sebagai pelatih kepala anyar klub. Pelatih berusia 41 tahun itu menandatangani kontrak jangka panjang bersama The Blues hingga 2032, menandai puncak perjalanan panjangnya di dunia sepak bola yang kini berujung di Stamford Bridge.

Dalam pernyataan resminya, Rosenior mengaku bangga dan terhormat mendapatkan kepercayaan memimpin salah satu klub terbesar di dunia.

“Saya sangat rendah hati dan merasa terhormat ditunjuk sebagai Head Coach Chelsea Football Club. Ini adalah klub dengan semangat unik dan sejarah besar dalam meraih trofi. Tugas saya adalah menjaga identitas itu dan membangun tim yang mencerminkan nilai-nilai tersebut di setiap pertandingan,” ujar Rosenior.

Ia menegaskan akan memberikan segalanya demi membawa Chelsea kembali berjaya dan terus bersaing di level tertinggi.

Anak London, Kembali ke Rumah

Penunjukan Rosenior memiliki nilai historis tersendiri. Ia lahir di Wandsworth, hanya beberapa kilometer dari Stamford Bridge. Chelsea menjadi klub permanen ketiga yang ia tangani sebagai pelatih kepala, sekaligus menjadikannya pelatih kulit hitam kedua dalam sejarah klub, mengikuti jejak Ruud Gullit hampir 30 tahun lalu.

Akar Sepak Bola dari Sang Ayah

Kecintaan Rosenior terhadap sepak bola tumbuh sejak kecil. Ia adalah putra Leroy Rosenior, mantan penyerang Fulham, Queens Park Rangers, dan West Ham United yang kemudian berkarier sebagai pelatih di level non-liga dan divisi bawah Inggris.

BACA JUGA:  Lagi, Puluhan Wisman Mengunjungi Kawasan Pembuat Kapal Pinisi Bulukumba

Sejak usia muda, Liam sudah menunjukkan ketertarikan besar pada sisi taktik dan kepelatihan. Bahkan saat berusia 11 tahun, ia sudah ikut memimpin sesi latihan tim sekolahnya.

“Taktik, perencanaan, dan persiapan tim selalu menarik perhatian saya sejak awal,” kata Rosenior dalam wawancara dengan situs Premier League.

Karier Pemain: Lebih dari 400 Penampilan

Sebagai pemain, Rosenior dikenal sebagai bek kanan andal yang juga mampu bermain di lini tengah. Ia mencatat lebih dari 400 penampilan senior di Premier League dan Championship.

Karier profesionalnya dimulai di Bristol City sebelum bergabung dengan Fulham pada musim 2003/04. Penampilannya yang konsisten membawanya memperkuat Timnas Inggris U-20 dan U-21, dengan total tujuh caps di level U-21.

Setelah membela Reading dan Ipswich Town, Rosenior mencapai puncak kariernya bersama Hull City. Ia tampil 161 kali untuk The Tigers, sempat menjadi kapten, serta bermain sebagai starter di final Piala FA 2014 melawan Arsenal.

Rosenior mengakhiri karier bermainnya di Brighton & Hove Albion, membantu klub tersebut promosi ke Premier League untuk pertama kalinya sebelum gantung sepatu pada 2018.

Langkah Cepat ke Dunia Kepelatihan

Tak lama setelah pensiun, Rosenior langsung terjun ke dunia kepelatihan. Ia menjadi asisten pelatih tim U-23 Brighton sebelum bergabung dengan Derby County sebagai bagian dari staf Phillip Cocu.

BACA JUGA:  Arbil dan April Bersaing di Top 10 Dangdut Academy 7 Malam Ini

Perannya berkembang pesat, mulai dari pelatih spesialis tim utama, asisten manajer, hingga pelatih interim. Saat dipercaya menangani Derby di League One, Rosenior mencatat tujuh kemenangan dan dua hasil imbang dari 12 laga.

Kariernya kemudian berlanjut di Hull City sebagai pelatih kepala. Saat itu Hull berada satu poin di atas zona degradasi, namun Rosenior sukses menyelamatkan mereka dan membawa klub finis di posisi ketujuh Championship pada musim penuh pertamanya.

Pada musim panas 2024, ia hijrah ke Prancis untuk menangani Strasbourg. Di Ligue 1, Rosenior membawa Strasbourg finis di peringkat ketujuh dan kembali ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 19 tahun. Mereka bahkan tampil impresif di UEFA Conference League, termasuk kemenangan atas Crystal Palace.

Gaya Melatih: Atraktif dan Fleksibel

Rosenior dikenal dengan filosofi permainan menyerang dan penguasaan bola. Tim-tim asuhannya gemar membangun serangan dari belakang dan mencatatkan jumlah umpan panjang paling sedikit di lima liga top Eropa musim ini.

Ia juga fleksibel dalam taktik, mampu beralih antara formasi empat bek dan tiga bek sesuai kebutuhan. Keunggulan lain adalah efektivitas bola mati—Strasbourg menjadi tim dengan gol terbanyak dari situasi sepak pojok di Ligue 1 musim lalu.

Selain itu, Rosenior mendapat reputasi kuat dalam mengembangkan pemain muda. Banyak talenta seperti Liam Delap, Fabio Carvalho, dan Tyler Morton berkembang pesat di bawah asuhannya.

BACA JUGA:  Tegas! Prabowo Tekan Transaksi Judi Online hingga Ratusan Triliun

Pujian dari Rooney dan Para Pemain

Wayne Rooney, yang pernah bekerja bersama Rosenior di Derby County, memberikan pujian tinggi.

“Liam adalah salah satu pelatih terbaik yang pernah saya ajak bekerja. Detailnya, pendekatannya sehari-hari, luar biasa. Saya belajar banyak darinya,” kata Rooney.

Pemain Chelsea Andrey Santos, yang tampil gemilang bersama Strasbourg dengan 12 gol dari lini tengah, juga memuji filosofi Rosenior.

“Dia pelatih hebat. Semua pemain menyukai visinya. Dia ingin menguasai bola, memperbanyak operan, dan menang. Itu yang terpenting,” ujarnya.

Senada, Habib Diarra dan Ben Chilwell menyebut Rosenior sebagai sosok yang membantu mereka berkembang, baik secara teknis maupun mental. Chilwell bahkan menyebut Rosenior “ditakdirkan berada di level teratas”.

Kini, takdir itu membawa Liam Rosenior ke Stamford Bridge—mengemban harapan besar untuk mengembalikan Chelsea ke puncak kejayaan. ***