News  

Begini Alur Pengelolaan Sampah di UIN Alauddin Makassar

Singara, Cleaning Service UIN Alauddin Makassar. (Dok Ist)

MAKASSAR, KUTIP.co -Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Kampus yang mempunyai slogan Kampus Asri ternyata tidak mengolah sampahnya sendiri. Petugas kebersihan hanya mengumpulkan sampah dari gedung dan lapangan kemudian disatukan pada titik tertentu, selanjutnya akan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Singara, salah satu Cleaning Service (CS) di UIN Alauddin Makassar ini memulai harinya dengan membersihkan Gedung Dosen B beserta halamannya.

Setiap harinya, ia memulai membersihkan pada pukul 07:30 WITA dengan mengeluarkan sampah putih dari gedung. Sampah putih yang dimaksud adalah sampah plastik, kertas, dan styrofoam.

Sambil tetap menyapu dedaunan yang jatuh dari pohon sekitar, wanita paruh baya itu bercerita, setelah membersihkan di dalam gedung, para CS akan membersihkan halaman gedung. Setelah jam istirahat dan kebutuhan perut telah terpenuhi, Pukul 13.00 WITA para pasukan kuning akan berkumpul di lapangan utama kampus peradaban untuk menyingkirkan sampah yang mengganggu pemandangan.

Sampah anorganik dan organik yang mereka kumpulkan langsung digabung dalam sebuah karung. Setelah itu, akan ada armada yang berkeliling menggunakan Motor Pick Up untuk mengambil sampah-sampah tersebut.

“Tidak ada tempat untuk memisah sampah. Jadi kalau kami sudah sapu, sampah di dalam gedung yaitu sampah putih sama bersihkan di lapangan, biasanya dikumpulkan di karung baru disatukan di depan gedung, nanti ada armada yang angkut,” ucap ibu yang sudah bekerja selama sepuluh tahun menjadi CS di UIN Alauddin Makassar itu.

Terkadang kata dia, ia harus mengangkat sampah yang dikumpulkannya dengan cara manual. Ia menyeret karung putih berukuran 90 cm x 130 cm ke arah belakang kampus yang berjarak kurang lebih 200 meter dari zona ia membersihkan.

Baca Juga:   Di Miss World, Carla Yules Bawakan Tari "Batu Lapidde" dari Sulsel

“Kadang armadanya lambat datang, jadi kita inisiatif untuk angkat sendiri,” tutur Singara menambahkan.

Setelah sampah dari gedung dan lapangan terkumpul di depan gedung C sebagai tempat pembuangan sementara, Singara mengaku bahwa pengangkut sampah dari TPA Cadika Limbung akan mengambil sampah yang dihasilkan kampus.

“Kontainer pengangkut sampah setiap pagi akan mengambil sampah yang telah dikumpulkan, namun terkadang tidak sesuai jadwal” endusnya.

Sementara itu, Herman yang merupakan karnet dari pengangkut sampah tersebut mengaku, bahwa terkait pengambilan sampah kata dia, pihaknya menunggu telepon dari pihak kampus.

“Pengangkutan sampah memang jadwalnya setiap pagi, tapi selama pandemi biasanya nanti ada petugas telepon baru kami pergi ambil, satu hari itu satu kali angkut saja, jadi kalau penuh kontainer dan masih ada sampah, besok lagi baru dieksekusi,” ucap Herman selaku kernet pengangkut sampah.

Setelah  melakukan penelusuran, UIN Alauddin Makassar tidak melakukan pemisahan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kampus. Baik itu sampah anorganik dan organik, semua dicampur pada mobil angkutan sampah.

Penulis mengikuti mobil pengangkut sampah yang merupakan truk Pemerintah Daerah Gowa. Truk yang mulanya berwarna hijau itu seiring waktu berlalu menjadi coklat tua karena karat yang mendominasi. Belum lagi, beberapa sisi pada bagian belakang sudah bocor. Ini mengakibatkan beberapa kali sampah plastik dan daun beterbangan di jalan.

Baca Juga:   Rayakan Milad ke -23, HMJ EI UIN Alauddin Makassar Pererat Solidaritas Melalui lomba dan Bakti Sosial

Saat memasuki kawasan TPA, mata saya tertuju pada alat daur ulang sampah di sebelah kanan pintu masuk. Alat itu sudah berkarat dan tampak tua.

“Sudah lima tahun lalu berhenti beroperasi itu alat daur ulang karena rugi, lebih besar pengeluaran daripada pemasukan, jadi diberhentikan,” ungkap Daeng Rani, sosok yang berpuluh-puluh tahun mengelola TPA Cadika Limbung.

Sejak saat itu pemulung atau di daerah Gowa biasa disebut payabo yang memilah sampah-sampah dari daerah Gowa tidak lepas dari sampah yang dihasilkan UIN Alauddin Makassar.

Tumpukan sampah di TPA ini seperti satu tumpukan mobil yang  memang tidak setinggi TPA Antang yang jika diperumpamakan  3 bus ditumpuk sehingga menjadi bukit sampah. Namun aromanya kurang lebih sama.

Ketika hidung mulai  menghirup udara maka saat itu pula kita akan merasakan sensasi mual yang sangat kuat. Kenapa tidak, saat itu hujan telah mengguyur daerah ini. Genangan air yang bercampur dengan sampah organik dan menimbulkan aroma kurang sedap terhadap indera penciuman.

Sementara itu, Andi Masud selaku Supervisor memiliki tugas mengawasi semua kegiatan CS di UIN Alauddin Makassar mengatakan, selama dua tahun bekerja, pengolahan limbah sampah dibedakan menjadi dua, yang bisa didaur ulang dan yang tidak bisa didaur ulang.

Sampah plastik dan kertas akan langsung dibuang di kontainer, sedangkan sampah ranting dan daun dibuang di belakang gedung terpadu. Walaupun pada kenyataanya semua sampah bercampur di truk. Namun, pria yang akrab disapa Andi itu berdalih bahwa hal itu terjadi karena keadaan darurat.

Baca Juga:   Jelang Pendaftaran PKD, Panwaslu Kecamatan Kindang Sebar Spanduk Pengumuman Perekrutan

“Sampah yang tercampur di TPA kampus dikarenakan keadaan darurat, kontainer tidak mampu menampung sampah kampus yang setidaknya satu ton per hari, oleh karena itu sampah menjadi bercampur,” jelas Andi saat ditemui di taman baca.

Ia juga mengatakan, masih menunggu alat mesin pengolahan sampah, dimana sampah plastik dapat dijadikan partikel-partikel kecil, namun masih ditunda sampai saat ini. Sehingga UIN Alauddin Makassar hanya mengumpulkan sampah dan dikelola oleh TPA Cadika Limbung.

“Untuk ke depan saya akan usulkan penambahan kontainer dan tempat sampah di beberapa titik. Mahasiswa adalah orang berpendidikan jadi kita sisa fasilitasi dan mereka pasti paham kalau membuang sampah harus pada tempatnya,” pungkas Adi dengan penuh harap.

Di sisi lain, saat berbincang melalui Whatsapp, Dosen Teknik Lingkungan Unhas Dr Eng Asiyanthi T Lando merincikan pengelolaan limbah universitas terbagi menjadi dua, yaitu padat dan cair. Limbah cair bisa diolah dengan menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebelum dilepas ke badan air dan untuk limbah padat yang disebut sampah, kemudian diolah dengan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle yang berfungsi sebagai bank sampah kampus.

Terakhir, ia menuturkan TPA akan menjadi cepat penuh bahkan melebihi daya tampung kalau kampus tidak mengolah sampahnya dan langsung dibuang ke TPA. (Penulis: Firda Mahasiswi Jurnalistik UIN Alauddin Makassar semester enam)