News  

Mengenal Lebih Dekat Junishar: Siswa SMA di Bulukumba, Peserta Terbaik Karantina Tahfidz

Junishar Ashidiq Taufik. (Foto: Dok Ist).

BULUKUMBA, KUTIP.co – Menjadi yang terbaik tidaklah mudah. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh usaha dan kerja keras. Juga keyakinan dan semangat pantang menyerah.

Seperti yang dialami, Junishar Ashidiq Taufik. Salah satu siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bulukumba. Ia belum lama ini, didaulat sebagai peserta terbaik pada Karantina Tahfidz program Pemrpov Sulsel satu hafidz satu desa.

Tak heran, jika Junishar berbangga. Alasannya, meski tak menempuh pendidikan formal pesantren, remaja kelahiran Bulukumba 25 Juni 2005 ini, mampu mengukir prestasi di bidang keagamaan.

Ia mengaku, sedikit terkejut. Sekaligus terharu, bercampur bahagia atas capaian tersebut. Benar-benar membuatnya semakin optimis untuk lebih giat belajar. Ditambah lagi, dia mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp2 juta.

Baca Juga:   Usai Disorot Gempar, Wabup Edy Manaf Gelar Rapat Koordinasi Bahas soal Pasar Setam

“Ya ada perasaan senang sih. Terharu, bahagia,” kata Junishar kepada KUTIP.co, Selasa, 16 November 2021.

Putra bungsu dari empat bersaudara ini, mengatakan, karantina tahfidz dilaksanakan selama 20 hari, dari tanggal 26 Oktober sampai 14 November 2021. Dia merupakan peserta terbaik, dari 40 peserta se provinsi Sulsel.

Junishar bilang, hasil tak akan mengkhianati usaha. Jika dilakukan secara sungguh-sungguh. Dibarengi keyakinan, selalu ada jalan untuk menggapai harapan.

“Saya mulai belajar tajwid di masjid di kompleks BTN Cabalu Bola Cippe, sejak kelas 3 SMP. Selama satu bulan. Setelah itu, saya belajar otodidak di rumah,” cerita Junishar.

Baca Juga:   Usai Tikam Warga di Permata Land, Lima Pelaku Diamankan Polisi Bulukumba

Putra dari pasangan M Taufik dan Andi Elisabeth Manggabarani ini, lebih jauh mengungkap bahwa ada peran dari orang yang paling dia sayang. Yang selalu bersamanya di saat suka maupun duka.

“Tak terlepas dari motivasi dan dorongan kedua orangtua,” kata Junishar, kemudian terhenti sejenak, seakan merenung. Lalu menyebut Ustaz Akmar Mahmud sebagai sosok guru tahfidz yang mengajarinya di mesjid Kompleks BTN Cabalu.

Bukan hanya itu, saat ditelusuri lebih dalam, remaja berusia 16 tahun ini, tak mampu menyembunyikan aktivitasnya sebagai salah satu Imam masjid di kompleks BTN Cabalu.

“Iya Imam juga di masjid. Kadang-kadang. Itu sejak usia 15 tahun,” terang Junishar.

Baca Juga:   Gubernur Resmikan Mesjid SMAN 1 Bulukumba, 1 Siswa "Dikode" Sekolah ke Madinah

Namun di sisi lain, dia hobi berolahraga. Hal itu untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Apalagi di hari libur katanya, dibutuhkan aktivitas untuk menyeimbangkan jiwa dan raga.

“Sering main sepak bola. Kemudian futsal. Selain itu, waktu libur juga saya sering manfaatkan untuk main drum,” jelas Junishar.

Sementara Ibunda Junishar, Andi Elisabeth Manggabarani mengaku, sebelumnya punya niat untuk menyekolahkan sang putra di pondok pesantren. Tapi, niat itu tak sempat terwujud.

“Kami memang bercita-cita untuk anak ini. Sempat mau dikasi mondok, tapi waktu itu dia sakit. Dia juga tidak bisa jauh dari orangtua,” kata Elisabeth, yang juga Sekretaris KPU Bulukumba.