KUTIP.co – Penyanyi sekaligus rapper Korea Selatan, Lee Young Ji, menyampaikan permintaan maaf secara pribadi setelah unggahan terbarunya di Instagram memicu kontroversi menjelang pemilihan umum Korea Selatan.
Kontroversi bermula ketika Lee Young Ji mengunggah foto dirinya mengenakan kaus berwarna merah pada Minggu dini hari, 31 Mei 2026. Dalam unggahan tersebut, ia juga memperlihatkan rambut barunya yang diwarnai merah.
Melalui Instagram Stories, Lee Young Ji menggunakan lagu “REDRED” milik CORTIS sebagai musik latar. Ia turut menuliskan keterangan yang menyinggung warna rambut barunya yang menurutnya terlihat menarik.
Unggahan tersebut kemudian menjadi sorotan sejumlah pengguna media sosial. Penekanan pada warna merah dianggap sensitif karena muncul menjelang pemilu Korea Selatan, sehingga sebagian pihak khawatir dapat ditafsirkan sebagai bentuk dukungan terhadap partai politik tertentu.
Tak lama setelah perdebatan muncul, Lee Young Ji menghapus unggahan yang dipermasalahkan tersebut.
Akui Kurang Mempertimbangkan Situasi
Pada malam harinya, Lee Young Ji kembali mengunggah Instagram Stories. Dalam unggahan terbaru itu, ia membagikan swafoto yang menunjukkan rambutnya telah diwarnai hitam.
Melalui pernyataan permintaan maaf, Lee Young Ji mengungkapkan bahwa dirinya menerima banyak pesan langsung dari publik terkait unggahan sebelumnya. Ia mengaku merasa bersalah setelah mengetahui adanya kesalahpahaman yang muncul akibat foto tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab, ia mengatakan segera mengganti warna rambutnya setelah menyadari kontroversi yang berkembang.
Lee Young Ji menjelaskan bahwa antusiasmenya untuk berkomunikasi dengan para penggemar membuat dirinya kurang mempertimbangkan situasi dan sensitivitas publik saat membagikan unggahan tersebut.
Ia juga menegaskan tidak ingin berlindung di balik alasan ketidaktahuan. Dalam pernyataannya, sang rapper berjanji akan belajar dari kesalahan tersebut dan lebih berhati-hati dalam bertindak maupun berkomunikasi di masa mendatang.
Kontroversi ini kembali menunjukkan tingginya sensitivitas masyarakat Korea Selatan terhadap simbol dan warna yang berpotensi dikaitkan dengan politik, terutama pada masa menjelang pelaksanaan pemilihan umum.












