MUSIC  

Gloomers Juara Grup 1 Band Academy, Rahardja Turun Panggung

Avatar photo
Gloomers Band Indonesia. Foto dok Gloomers/IG
Gloomers Band Indonesia. Foto dok Gloomers/IG

KUTIP.co – Grup band asal Tangerang Selatan, Gloomers, sukses keluar sebagai juara Grup 1 ajang Band Academy Indosiar.

Kepastian itu didapat usai menaklukkan Rahardja asal Bandung pada babak grand final, Jumat malam (17/4).

Hasil tersebut membawa Gloomers melangkah ke babak semifinal Band Academy Indosiar musim 2026.

Indosiar pun menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan grup tersebut menembus fase berikutnya.

“Selamat untuk Gloomers yang menjadi juara Grup 1 dan melaju ke semifinal Band Academy,” tulis pengumuman resmi Indosiar.

Sejak awal acara dimulai, persaingan dua finalis sudah berlangsung sengit.

Host Ramzi dan Rina Nose yang ikut memandu jalannya pertunjukan yang berlangsung meriah.

Kedua grup tampil maksimal di hadapan dewan juri yang diisi Ariyo Wahab, Anang Hermansyah, dan Pongki Barata.

Rahardja lebih dulu mencuri perhatian lewat konsep vintage yang dibawakan di atas panggung.

Band asal Bandung itu berduet dengan Tasya DA7 membawakan lagu Rindu Berat yang dipopulerkan Camelia Malik.

Penampilan tersebut mendapat pujian dari Anang Hermansyah.

“Ini band luar biasa dan punya pasar di Indonesia. Kalian membawakan lagu dengan berbeda,” ujar Anang.

Tak ingin tertinggal, Gloomers tampil meyakinkan lewat aransemen musik yang matang.

Grup asal Tangerang Selatan itu membawakan lagu Darah Muda milik Rhoma Irama bersama Valen DA7.

Pongki Barata terkesan dan meminta lagu tersebut direkam ulang saat melihat aksi Gloomers.

“Rekam lagu ini, rilis,” kata Pongki.

Menuju Babak Semifinal

Kemenangan ini menempatkan Gloomers sebagai salah satu wakil yang lolos ke fase semifinal musim perdana Band Academy.

Selanjutnya, mereka akan berhadapan dengan para juara dari lima grup lain untuk memperebutkan tiket ke babak final.

Format kompetisi memang menyaring tiga puluh band menjadi enam juara grup sebelum menentukan yang terbaik.

Karena itu, setiap kemenangan grup menjadi tonggak penting dalam perjalanan sebuah band di ajang ini.

Sementara itu, kolaborasi dengan para alumni Dangdut Academy pada malam puncak grup memberi warna berbeda di panggung.

Perpaduan band pendatang baru dengan penyanyi dangdut ternama membuat pertunjukan terasa lebih segar.

Bagi Rahardja, kekalahan tipis di laga puncak grup tidak mengurangi kesan kuat yang mereka tinggalkan.

Konsep vintage yang khas membuat band asal Bandung itu tetap dikenang penonton sepanjang musim ini.

Hasil malam itu sekaligus menutup rangkaian persaingan Grup 1 yang berlangsung sengit sejak babak pembuka.

Perhatian penonton kini beralih ke grup-grup berikutnya yang akan menentukan wakilnya masing-masing.

***