News  

Cegah Stunting di Bulukumba, BKKBN dan Dinkes Gencarkan Sosialisasi

Sosialisasi pencegahan Stunting yang digelar oleh BKKBN di Cafe HDR (Dok Ist)

BULUKUMBA, KUTIP.co – Dalam rangka mencegah kasus stunting di Kabupaten Bulukumba, Badan Pengendalian Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), melaksanakan sosialisasi kegiatan pendampingan tim audit kasus stunting di HDR dan Cafe. Selasa 6 September 2022.

Pada kegiatan itu, narasumber yang dihadirkan dari pakar ahli spesialis anak dan gizi, kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, dihadiri oleh BKKBN provinsi Sulsel, Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas, Camat, dan Kepala Desa yang menjadi lokus pencegahan kasus stunting.

Menurut kepala Dinas DP3A dr. Wahyuni mengatakan bahwa kegiatan tersebut adalah pemaparan dari hasil audit yang telah dilakukan di lapangan, ada delapan kasus yang diangkat yaitu empat kasus stunting, tiga kasus ibu hamil kekurangan gizi kronik dan satu ibu nifas.

Baca Juga:   6 Caleg Terpilih PKS 'Bertarung' jadi Ketua DPRD Bulukumba 2024-2029

“Delapan kasus ini, kami tentunya sudah betul-betul kita sudah audit di lapangan mulai dari kondisi lingkungan, sarana dan prasarana, serta asupan gizi, dari hasil audit tersebut kami dapat banyak pembelajaran, dari semua kasus dipengaruhi oleh faktor kemiskinan, jadi pemerintah perlu terlibat langsung bagaimana mengintervensnya,” Kata Dr. Wahyuni saat di Wawancarai

Lebih lanjut mengatakan bahwa pemerintah sudah merespon terkait dengan adanya kasus stunting tersebut, juga nantinya akan melakukan disemenisasi data, nantinya akan ada rekomendasi yang diserahkan oleh tim pakar ke ketua TPPLS, dalam hal ini Wakil Bupati, untuk bagaimana Pemerintah Daerah mengambil kebijakan dari kasus kasus yang ada.

Baca Juga:   Kapolres Bulukumba Pimpin Upacara Pelepasan Personel Wisuda Purna Bakti

“Jadi tentunya tujuannya kita menurunkan angka stunting, jadi lokus audit kami ada di dua desa Barombong kecamatan Gantarang dan desa Garanta kecamatan Ujung Loe, yang memang angka stunting di lokasi tersebut tinggi, tapi tidak menutup kemungkinan di desa lain juga ada, tapi kita lokusnya di dua desa tersebut untuk dijadikan pembelajaran,” Tambah dr. Wahyuni

Bahkan menurutnya, pencegahan kasus stunting semua harus terlibat salah satunya pemerintah desa yang harus peduli, bagaimana anggaran Desa dimanfaatkan dengan baik untuk pencegahan stunting. (Mad)